Wayang - Dewi Kunti

From: Hartoyo Soehari <hsoehari@GARNET.ACNS.FSU.EDU>
Subject: Dewi Kunti

Dengan hormat,

Baru saja di Jakarta diadakan temu dalang wanita. Dalang-2 tsb. menampilkan lakon-2 wayang kulit yang semuanya diperankan wanita, seperti Srikandi meguru manah, Supraba Duta, dsb. Upaya positip melestarikan budaya kita. Pada kesempatan ini, perkenankanlah saya urun rembug menayangkan lakon yang juga wanita, yaitu kisah Dewi Kunti, (ibu yang menderita?).

Dewi Kunti itu anak seorang raja besar, Kuntiboja. Kunti itu gadis cantik. Dia belajar suatu ilmu yang bisa menarik orang. Suatu hari ia ingin mencoba ilmunya itu. Ia konon berjemur ditepi kolam di keputrennya dalam keadaan menantang. Pada suatu saat, sepertinya ada sinar sebentar sekali yang menyinari tubuhnya itu. Dia sendiri tidak merasakan itu. Selang berapa waktu...menit ke hari..hari ke bulan....diketahui, gadis Kunti hamil. Sang ayah kebingungan, anaknya belum menikah, hamil. Maka dikumpulkanlah kerabat kerajaan dan penaehat-2nya, agar berita ditahan, dan rapat, mohon advis, bagaimana bisa begini....sudah terjadi...bagaimana ini....terus bagaimana nanti...dst..

Seorang penasehat kerajaan, seorang resi, yang berilmu tinggi, menyampaikan pendapatnya, bahwa sang ayah si bayi adalah Dewa Surya, dewa matahari, yang mendekati Kunti waktu ianya berjemur di kolam. Kunti mengiyakan hal ini. Diapun menyanggupi mengeluarkan bayi itu liwat telinga Kunti...wah yang hadir semua cingak/wonder/terperanjat...barangkali= mereka bergumam..apa-2an dia ini,..ah..ah..sensasi saja dia.

Si Resi meyakinkan kepandaiannya, maka sang Raja bertitah...kerjakan. Dengan ilmunya, sang resi berhasil mengeluarkan bayi dari telinga Kunti. Bayi laki-2, mungil, bagus/handsome. Terus apa namanya dia. Bayi diberi nama Karna (karna artinya telinga). Satu tahap selesai, bayi keluar, aman. Tahap dua, aman, diberi nama. Bagaimana terus, sang raja masih berpikir. Setelah diskusi sana sini situ, diputuskan untuk membuang bayi. Bayi dibungkus rapi, dimasukkan ke kotak, dan dihanyutkan ke sungai. Dewi Kunti menderita, sedih, menangis, hatinya haru, kecewa....tapi semua sudah terjadi..gelo kuwi tekane keri/kecewa itu datangnya kemudian, .....

Kunti masih gadis. Ia dinikahi prabu Pandu, punya anak tiga laki-2: Yudistira, Sena, dan Arjuna. Pandu, suaminya, meninggal muda, saat anaknya masih kecil-2. Dewi Kunti menderita, sedih, menaansgis, hatinya haru...oh dewa, kenapa harus begini..mungkin itu keluhnya. Pandu punya istri lain, Dewi Madrim, beranak dua, Nakula dan sadewa. Mereka berlima diemong/dipelihara Kunti. Disebut pandawa Lima.

Pada suatu saat, Pendawa lima kalah judi/dadu dengan Kurawa, dan hartanya, negaranya (Amarta) diminta kurawa, dan pendawa Lima harus masuk hutan 14 tahun. Dewi Kunti mengawal kelima anaknya di hutan...tiap hari sedih, menderita....oh dewa, dewa..mengapa harus begini...

Pada saatnya tiba, Pandawa keluar dari hutan, dan minta Kurawa agar negara Hastina dan Amarta dikembalikan padanya. Ibunya, Kunti, menjadi duta/utusan untuk mengurus hal tsb, tapi gagal, ditolak mentah-mentah, dia pulang dengan sedih, menderita, malu, dan hatinya haru....oh dewa, dewa, mengapa harus begini.......

Karna yang dibuang kemarin itu, ditemukan seorang kusir kereta kerajaan hastina, Adirata namanya. Ternyata karna itu sakti dan pandai, maka yang semua Karna dihina oleh anak-2 kerajaan, menjadi dipuji, dan dipercaya dengan diangkat menjadi adipati di Awangga.

Setelah perundingan gagal, maka perang Baratayudha antara pendawa dengan Kurawa tak dapat dielakkan, ..mereka perang..perang antara saudara. Karna ada di pihak Hastina. Tiba saatnya, karna ditunjuk menjadi senapati perang, seang di pihak Pandawa senapatinya adalah Arjuna, jadi adiknya karna tunggal ibu, lain bapak.

Sebelum mereka perang, datanglah ibu Kunti menemui Karna dengan maksud merajuk agar kembali ke saudara-2nya pandawa. Kira-2 inilah rembugannya:

Kunti,"Karna, ngger anakku.."
Karna,"...hm..hm...memang saya dengar kabar burung bahwa saya anaknya
Dewi Kunti, ...baru kali ini saya dengar Dewi Kunti menyebut aku anaknya..
oh dewa..dewa.."
Kunti,"..ya Karna, anakku.."
Karna,"..oh ya ibu, ada apa gerangan tidak seperti biasanya, menemui
saya, ibu"?
Kunti,"...saya inginkan Karna anakku bergabung dengan saudara-2mu
pandawa, karna, mereka adikmu...adikmu..janganlah berperang..orang
Hastina itu bukan saudaramu".
karna,"...ibu, saya mengerti betul perasaan dan penderitaan ibu,..tapi
terus terang saya juga susah...karena tidak bisa memenuhi permintaan ibu.."
Kunti,"...kenapa Karna..."
Karna,"..saya tidak cinta dengan Pendawa walau mereka benar saudaraku.."
Kunti,"..lho kenapa Karna"
Karna,"...oh ibu, bagaimana aku cinta sedang sejak kecil aku tidak pernah
kumpul mereka ..oh ibu.."
Kunti,..ya anakku Karna, janganlah itu diungkit lagi..ibu sedih sekali.."
karna," itulah bu, saya paham betul kesusahanmu, tapi aku tidak bisa
memenuhinya...lagipula bu, aku ini anak hina, dibuang, tidak dihargai
orang, kemudian raja hastinalah yang memuliakan saya sampai jadi orang
yang dihargai seperti sekarang ini, jadi tidak bisa saya mengecewakannya,
ibu.."
Kunti," ..oh Karna, anakku,...saya paham...tapi aku ini ibumu Karna"
Karna,"..ya bu..tapi aku tidak bisa kembali ke Pendawa,,kanjeng ibu".
Kunti,"..jadi tidak bisa karna.."
karna," Tidak bisa ibu...dan saya mohon pamit akan perang..ibu".
Kunti,"..Karna kau tega denganku..karna...oh Karna kau tega meninggalkan
aku".

.......Karnapun pamit dengan naik keretanya untuk berperang di medan baratayudha Jayabinangun.....dia akhirnya mati dipanah Arjuna..

Cerita ini mengandung nilai-2, dan nilai apa, masing-2 kita mungkin bisa memilihnya sesuai tatapandang kita masing-masing. Saya misalnya berpikir, bahwa tekon itu nentoke lakon, artinya semacam sebab akibat begitu....mencoba berjemur dengan posisi menantang...akibatnya ya ada yang datang....dan hamil. Karena malu, ..anak dibuang..dst. Memang kekduanya dalam suasana sulit, antara Karna dan Kunti,..namun karna sudah bulat hatinya...benar juga..bagaimana cinta kalau tiidak pernah bergaul..witing tresna jalaran saka kulina, dan diapun berpikir balas budi..dari orang hina, terbuang di kali, jadi anak kusir, kemudian dipromosikan jadi adipati, maka dia memilih loyal pada bosnya...Sunan Surakarta menmasukkan Karna kedalam salah satu tokoh dalam Tripama, tiga tokoh yang patut diteladani keloyalannya, bersama Kumbokarno dan sumantri.