Wayang - Dewbrata
From: Hartoyo Soehari <hsoehari@GARNET.ACNS.FSU.EDU>
Subject: Dewabrata
Dengan hormat, Mohon kepada teman-2, bila keliru, dikoreksi. Dewabrata: patuh kepada orang tua. Konon, dulu-2nya raja Hastinapura adalah Prabu Sentanu. Dia raja gung binatara (raja besar), sugih banda (kaya harta), sugih bandu (kaya teman), dan sugih bandi (kaya sedulur). Sang prabu suatu saat gandrung kapirangu (jatuh cinta sekali) pada seorang bidadari. Saking cintanya sang prabu sampai keyungyung, sakit bathin,..kalau tidak jmpa rasa sakit badan, makan tidak enak, tidur pusing, dan lain-2 jenis tanda-2 sakit kasmaran. Sang dewi mau dirabi (dinikahi) dengan suatu kudangan (prasyarat) yaitu sang prabu tidak akan menolak apa saja yang akan sang dewi lakukan. Sang prabupun menuruti permintaan kekasihnya. Dari perkawinannya itu, mereka punya anak. Anak pertama lahir, sang dewi pergi ke laut, dibuanglah anak itu; bila dicegah, sang dewi selalu merujuk ke perjanjinnya dulu: jangan melarang. begitu terus, sampai anak ke-6. Pada anak ke-7, sang dewi akan melakukan hal serupa, tapi sang prabu mencegahnya lagi. Berkata beliau," diajeng, aku menungso lumrah, ora kuwat aku nyawang lelakon ngene iki (dik, saya orang biasa, tidak kuat aku melihat begini terus"). Jawab sang istri"...oh yen ngono, koyo wis wancine kudu pisah kakang (oh.., kalau begitu, kiranya sudah saatnya kita berpisah). Maka sang dewipun pamit, pulang ke kahyangan. Sang prabu tinggal sendirian dengan anak lelaki kesayangannya yang diberi nama Dewabrata: hari-2 dikudang, main di taman, dst.....tidak terasa Dewabrata menanjak dewasa. Bersamaan itu, sang prabu berjumpa dengan seorang wanita cantik jelita, tanpa cacat, bernama Dewi Setyawati. Sang prabu jatuh cinta kepayang. Sang dewi mau dinikahi dengan satu kudangan bahwa besok anaknya yang menggantikan menjadi ratu. Permintaan yang berat. Setelah dipikir dan ditimbang, sang prabu memanggil Dewabrata untuk berembug. Prabu Sentanu (PS),"Dewabrata anakku, ngger. Aku kepengin rabi maneh, mungguhmu piye (..saya ingin menikah lagi, bagaimana menurutmu)?. Dewabrata,"Aku setuju, bapak. PS,"Tapi ono panjaluk abot, anakku" (tapi ada permintaan berat, anakku). D, "Aku sarujuk, bopo, apa mintanya". PS,"Ia minta anaknya yang menggantikan aku menjadi ratu". D," Aku sarujuk, bopo (bapak)" PS,"kamu tidak apa-2 Dewabrata"? D."Tidak". PS,"Lalu, bagaimana dengan anak turunmu?. D,"Untuk ini, bopo, saya tidak akan berketurunan, saya tidak akan menikah seumurku, bopo" .......Langit mendung, suasana hening.....dewa menyaksikan sumpah prasetyane Dewabrata Sang prabu merangkul anaknya, ..."oh anakku ngger, gede bektimu marang wong tuwa, ..." Sang prabu lalu berpesam..."kalau begitu, anakku, eling-2 pesenku: ojo pisan-2 kowe ninggalke negara Hastina sanajan samubarang kedadeyan ngger,...(janganlah sekali-kali meninggalkan negara Hastina, apapun yang terjadi). Dalam perjalanan hidupnya, ternyata ada dua wanita cantik, Dewi Amba dan Ambalika, jatuh cinta kepada Dewabrata. Dewabrata menolaknya. Mereka berdua terus mendekati Dewabrata, walau terus ditolak. Pada suatu hari, mereka mendekat lagi, maka Dewabrata mengeluarkan jemparing/panah, dengan maksud untuk menakut-2i agar mereka pergi, namun nasib lain, panah mrucut/terlepas, dan tepat mengenai mereka, mati. Arwahnya melayang dan berkata..."eh--eh--eh Dewabrata, tak tunggu neng surga pengrantunan kakang Dewabrata". Pada perseteruan Kurawa (Hastina) dan Pandawa, Dewabrata sudah tua dan menjadi pendito/resi bernama resi Bisma. Dia tahu bahwa Kurawa keliru. Dia selalu menasehati, namun Kurawa tetap keras kepala. Namun demikian Resi Bisma patuh kepada pesan ayahandanya dulu untuk selalu menetap di Hastina, karena dia konsekwen dengan pesan itu: tetap di Hastina. Pada saatnya permulaan perang Bratayudha, Bismapun maju sebagai senopati perang: saya membela negaraku. Dari pihak Pendawa menunjuk Dewi Srikandi sebagai senopati. Walau perang, Srikandi tetap datang bersembah, dan terus dinasehati untuk bertugas, yaitu perang, melaksanakan tugas negara. Saatnya tiba, Srikandi siap dengan busur panahnya...Resi Bisma sudah ada firasat ajalnya tiba. Dia melihat bayang-2 Dewi Amba dan Ambalika didekat Srikandi, maka sekali lepas busur panah dari tangan Srikandi,.....tepat kena dan robohlah Resi Bisma. Arwah Dewi Amba dan Ambalika sudah siap menyambut arwah kekasihnya, Dewabrata. Dewabrata tidak menikah, tidak ada keturunan, sehingga tidak ngurushi anak turun-temurun waris negara Hastinapura dari ibunya, Dewi Styawati. Resi Bisma tergelepar bermandikan darah dimedan perang. Sebelum mati, dia memanggil Kurawa, minta dibawakan bantal, maka para Kurawa berdatangan berebut menyerahkan bantal yang paling bagus, dan paling mahal, namun bantal itu ditolak. Gantian, Bisma memanggil Pandawa, minta bantal, maka Pandawa datang dengan membawa potongan senjata yang bertaburan di medan perang, potongan -2 itu ditumpuk, dan untuk bantal resi Bisma......sekejap demi sekejap, matilah Resi Bisma. ============================================= Ada nilai-2 yang dapat saya petik dari sini. Misal: Dewabrata selalu patuh dan berupaya sekuat tenaga untuk mematuhi orang tuanya, beserta pesan-2nya. Tantangan wanita cantik, ditolaknya. Banyak kerajaan menawarkan tempat yang teduh dan damai, tapi Bisma tetap tinggal di hastina karena memegang teguh pesan bapaknya. Dia bela negaranya sampai mati. Aspek lain, persoalan sulit bagi sang Prabu sewaktu dimintai kudangan oleh kekasihnya: agar anak turunnya yang menjadi ratu, itu adalah kudangan yang berat sekali. Kalut, tidak bisa dipikir, seolah buntu. namun, dengan dirembug dengan anaknya, ternyata ada solusi. Namun juga, setiap solusi ada resikonya. Sang prabu tega melepas hak mahkota anaknya (DEwabrata), hanya untuk memenuhi keinginannya menikahi sayangnya. Kembali pada awal cerita, sang Prabu tidak tahan melihat perilaku aneh istrinya dengan membuang anak ke laut. Dia manusia biasa, habis sabar, tidak tega, dan tidak tahan. Namun dia dihadapkan kepada janji, maka sekali janjinya dilanggar, selesailah jodonya dengan bidadari, ini resikonya. Nuwun Hartoyo Soehari Tallahassee, Florida, USA.